15 Jam Perjalanan untuk Membawa Kabar Baik ke Uetuwu, 17 Agustus 2014

Share This Article

Terkadang, untuk Kabar Baik dapat diberitakan kepada masyarakat luas, diperlukan sebuah pengorbanan. Pada tanggal 17 Agustus 2014, Tim Anugrah berangkat ke Uetuwu, pedalaman Sulawesi Tengah. Slamet Sihombing & Rasmi Juliarti Situmorang, yang juga dipanggil Amy (Kepala Sekolah TK & SD Anugrah), juga Jonah Martin (missionary dari Canada yang akan bertugas untuk mengajar bahasa Inggris kepada murid-murid kami). Mereka memulai perjalanan dari Lemo pada jam 1 siang. Seharusnya mereka naik ojek, tetapi karena supir ojek membatalkan tumpangan mereka, tim kami mengambil keputusan untuk berjalan kaki.

Cuaca sangat tidak menentu hari itu. Dimulai dengan teriknya sengatan sinar matahari. tak lama kemudian mendung dan hujan lebat. Tim kami tidak persiapan menghadapi hujan, sehingga tas ransel dan baju mereka semua basah. Jonah bahkan mencoba untuk menutupi kepalanya dengan daun yang lebar, sebagai gantinya payung. Karena cuaca yang kadang panas dan kadang hujan, Amy jatuh sakit (demam). Mereka berdoa bagi kesembuhannya dan meminta Tuhan untuk memberikan kekuatan ekstra baginya. Mujizat terjadi dan hampir seketika Amy sembuh. Maka merekapun kembali melanjutkan perjalanan yang panjang melalui beberapa desa, mendaki gunung dan menerobos hutan.

Beberapa sungai yang mereka lalui sampai meluap dengan arus yang begitu deras. Tanah yang mereka lalui penuh dengan lumpur, membuat mereka kadang-kadang tergelincir. Satu waktu, Slamet jatuh terperosok ke dalam lumpur yang dalamnya sekitar satu meter. Ia berpikir pasti pergelangan kakinya terkilir. Ia diam saja selama tujuh menit, tidak berani bergerak, berdoa dalam hati kepada Tuhan dan minta mujizat. Ketika akhirnya anggota tim yang lain berhasil mengeluarkannya dari lumpur, kakinya baik-baik saja. Puji Tuhan! Berjam-jam berjalan dan malampun tiba. Sekeliling mereka mulai nampak sangat gelap. Untungnya beberapa anggota tim ada yang membawa senter. 8 jam berjalan, dan mereka tiba di desa terpencil, dalam keadaan lapar dan kotor. Penduduk setempat memasakkan mie instan buat santapan makan malam mereka. Rasanya tidak pernah makan seenak itu!

Yahweh Yireh, Tuhan menyediakan bagi mereka sebuah sekolah di daerah itu. Ada satu kelas yang pintunya tidak terkunci. Tim kami memutuskan untuk bermalam di kelas tersebut. Tidak punya cukup tenaga untuk mandi, mereka tidur dengan pakaian yang berlumpur. Keesokan harinya, mereka harus cepat-cepat meninggalkan kelas itu, karena akan dipakai untuk kegiatan belajar mengajar. Mereka lanjut berjalan. Semakin dekat dengan Uetuwu, semakin terjal gunung yang harus didaki. Akhirnya, setelah total 15 jam berjalan kaki, tim kami tiba di Pondok Kasih Anugrah di Uetuwu dalam keadaan selamat dan tidak kekurangan sesuatu apapun. Mereka sangat bersuka cita melihat anak-anak suku Wana menyambut kedatangan mereka, dan memuji Tuhan. Senang sekali rasanya dapat kembali memberitakan Kabar Baik kepada suku terasing Wana. Kemuliaan bagi Tuhan !

[wppa type=”thumbs” album=”297″]Any comment[/wppa]

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

thirteen − 6 =