Mendapat Promosi dari Tuhan

Share This Article

Ayat bacaan: Kejadian 41:1-57

Sampai saat firmanNya sudah genap, dan janji Tuhan membenarkannya

Mazmur 105:19

            Semua orang ingin mendapatkan promosi. Mendapatkan bonus, kenaikan gaji atau pangkat, kesempatan bisnis yang lebih besar adalah impian semua orang. Tetapi ternyata promosi tidak datang secara tiba-tiba. Diperlukan ketekunan, kesetiaan, dan ketahanan uji dalam menjalankan pekerjaan kita, sampai akhirnya kita dipromosikan Tuhan naik ke level yang lebih tinggi.

Seperti kisah Yusuf yang kita baca dalam ayat bacaan hari ini. Pada akhirnya, Yusuf mendapatkan promosi yang dinanti-nantikannya. Ia diangkat menjadi orang paling berkuasa nomer dua di Mesir. Kedudukannya hanya satu pangkat di bawah Firaun. Tentulah itu merupakan suatu hal yang indah bagi Yusuf, karena akhirnya dia mencapai destinasi hidupnya, yaitu memerintah di istana.

Tetapi perjalanan menuju istana harus ditempuhnya dalam waktu yang tidak singkat. Selama 13 tahun, Yusuf mengalami proses kehidupan yang tidak mudah. Dari seorang anak kesayangan ayahnya, dia dijual sebagai budak oleh kakak-kakaknya. Tidak cukup menjadi budak di Mesir, di rumah Potifar, diapun masih harus mengalami fitnah dari istri Potifar yang menaruh hati padanya, yang membuat dia terjerumus ke dalam penjara.

Di dalam penjara, dia bisa saja menjadi orang yang sangat pahit dan kecewa. Bisa saja dia menjadi marah kepada Tuhan, dan dendam kepada kakak-kakaknya dan istri Potifar yang telah menyebabkan hidupnya menderita. Namun kita lihat di sini, bagaimana justru karakter Yusuf dibentuk oleh Tuhan melalui semua proses yang harus dialaminya ini. Di dalam penjara pun, dia tidak ditinggalkan oleh Tuhan. Tuhan bahkan mempunyai rancangan yang begitu indah untuk membebaskan Yusuf dari penjara dan mempromosikannya.

Sebelum promosi itu datang, sesungguhnya karakter kita sedang diuji oleh Tuhan. Apakah kita sudah siap, apakah karakter kita sudah baik? Bila promosi itu akhirnya diberikan kepada kita, apakah kita akan menjadi sombong dan lupa Tuhan, atau kita malah akan menjadi orang yang rendah hati dan mengembalikan segala kemuliaan kepada Tuhan? Jadi, sebaiknya kita berfokus bukan pada promosi itu sendiri, atau kapan promosi itu akan datang, tapi pada karakter kita.

 

Pada saat karakter kita siap, maka Tuhan akan mempromosikan kita. (DC)

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 18 =