Perhatikan Cara Kita Melihat Dan Mendengar

Share This Article

MENGAPA HAL TERSEBUT PERLU?

Sebab cara kita melihat dan mendengar sangat menentukan apa yang kita terima.

– Matius 6:22-23. Mata adalah pelita tubuh, jika matamu baik, teranglah seluruh tubuhmu, jika matamu jahat, gelaplah seluruh tubuhmu. Jadi jika terang yang ada padamu gelap, betapa gelapnya kegelapan itu.

– CEV. Your eyes like a window for your body. When they are good, you have all the light you need. But when your eyes are bad, everything is dark. If the light inside you is dark, you really are in the dark. 

Hari-hari ini saya masih menemukan orang-orang yang memiliki cara pandang maupun cara mendengar yang kurang (tidak) baik, sehingga bisa ditebak hasilnya…. Mereka kehilangan hal-hal yang sebetulnya bisa memberkati mereka.

Saya pribadi jika diperhadapkan orang yang negatif lebih suka mundur dari pada jadi korban fitnah.

 

# CARA MELIHAT YANG BENAR.

Cara pandang sama seperti seseorang mengenakan kaca mata dengan lensa warna hitam, biru, merah, coklat dan sebagainya, hasilnya ditentukan oleh warna lensa kaca mata kita.

Saya contohkan satu saja cara pandang yang baik dengan apa yang saya sering saya lakukan terhadap diri saya juga orang lain. Manfaatnya tentunya sangat besar.

Beberapa tahun yang lalu rumah saya yang terletak di sebuah real estate di Jakarta,  ditaksir oleh sepasang suami isteri yang punya anak balita. Letaknya di sebuah jalan yang kelas 3 dan jalan buntu. Dan di jalan itu hanya ada 5 rumah yang saling berhadapan.

Mereka mencoba menawar harga lebih rendah dengan alasan letak rumah saya yang bukan di jalan utama dan berujung di jalan buntu.

Saya coba memberikan pandangan (pendapat) saya: “Rumah saya justru di tempat yang eksklusif, di jalan itu hanya ada 2×5 rumah, tidak banyak mobil yang lalu lalang. Semua mobil yang menuju ke situ kebanyakan punya tamu atau pemilik rumah, jadi siap-siap masuk berhenti atau masuk garasi, kecepatan kendaraan sangat rendah. Jadi sangat aman buat anak Anda belajar naik sepeda.

Lagi pula bukan di jalan utama, membuat rumah tidak cepat kotor dengan debu dan tidak berisik. Terakhir… pencuri pasti takut kalau mau beroperasi di situ, jangan-jangan terperangkap. Tidak ada jalan untuk lari”

Akhirnya, pasangan ini beli rumah saya tanpa menawar lagi.

Saya tidak memanipulasi, saya hanya memunculkan apa yang memberikan nilai keuntungan (kebaikan) bagi calon pembeli. Merekapun suka setelah mengerti manfaatnya.

# MENDENGAR DENGAN MENYIMAK.

Wahyu 13:9. Barang siapa bertelinga, hendaklah ia mendengar!

Dan berkali-kali Tuhan mengatakan hal yang sama.

Saya memahami bahwa yang Tuhan maksud adalah mendengar dengan menyimak, bukan sambil lalu. Dengarkan firman-Nya dan masukkan dalam benak kita.

Oleh sebab itu, perhatikanlah cara kita melihat dan mendengar, karena hal itu akan menentukan apa yang kita peroleh. Sedangkan alat melihat dan mendengar yang sesungguhnya adalah HATI kita, dan standarisasi kelayakannya (pertimbangannya) ada di PIKIRAN kita.

 

# HATI, SARANA UNTUK MELIHAT:

Apa yang dikatakan seseorang sangat berkaitan dengan kondisi hatinya.

Jika kita ingin memiliki kondisi hati terjaga baik, penting sekali kita mengerti bagaimana cara menjaganya.

 

Salah satu caranya adalah kita perlu memiliki Self Image (citra diri) yang baik.

– Citra diri yang baik dan menetap tidak diperoleh dari penghargaan orang lain, melainkan diperoleh dari apa yang Tuhan lihat dan katakan tentang kita, dan pengertian akan penerimaan Tuhan atas diri kita apa adanya.

Ketika citra diri kita baik, kita merasa aman, maka kitapun bisa melihat yang baik pada diri orang lain ataupun dari situasi yang sangat buruk.

– Juga kita harus memiliki self-worth (nilai diri) yang tepat, yakni kita seharga dengan nyawa-Nya. Tidak lebih dan tidak kurang, semua orang memiliki nilai yang sama.

– Citra diri dan nilai diri yang buruk membuat hati kita mudah menjadi negatif, tertolak, rendah diri, iri, merasa diperlakukan tidak adil, mudah tersinggung, pemarah, dendam dan lain-lainnya. Citra diri dan nilai diri yang buruk ini berdampak sikap kita yang buruk terhadap orang lain.

– Tentang citra diri ini harus tepat, tidak kurang dan tidak lebih (Roma 12:3).

Yang lebih menjadi over self-confident, malah tampak aneh.

Musa punya gambar diri yang sangat buruk (Keluaran 3-4), Tuhan tetap bersabar untuk bisa memakainya. Demikian juga Gideon. Sementara Amos memiliki gambar diri yang tepat (Amos 7:14-15). Dari 12 pengintai, yang 10 melihat dirinya seperti belalang, sementara yang 2 melihat Tuhan berpihak kepada mereka. Daud juga melihat Tuhan yang memandang dirinya amat berharga.

Kita melihat dari contoh-contoh di atas, bahwa gambar diri dan nilai diri yang sehat sangat penting untuk kita bisa dipakai Tuhan.

# PIKIRAN, SARANA PENYELEKSIANNYA.

Semua info yang datang dimasukkan ke pikiran.

Pertimbangan segala sesuatu adanya di pikiran, di mana standarnya adalah nilai-nilai kebenaran. Supaya kita tidak salah menilai yang bisa membuat kita rugi, maka perlu sekali pikiran kita terus diisi dengan nilai-nilai kebenaran.

 

JANJI TUHAN:

Sejauh kita memandang, sejauh itu pula yang Tuhan mau berikan pada kita, itu janji Tuhan buat Abram dan keturunannya. Kitapun keturunan secara rohani karena kita diadopsi oleh Tuhan Yesus Kristus. Oleh sebab itu mari kita teliti dengan baik bagaimana cara kita memandang dan mendengar.

Seperti alat timbang yang perlu ditara secara berkala, maka sarana penilaian kita, seperti hati, perlu kondisi yang terjaga baik; dan pikiran perlu diupgrade dan update dengan pengetahuan yang benar.

Saya merindukan kita semua memiliki cara pandang dan mendengar yang baik, supaya kita tidak kehilangan yang baik.

 

Di Alkitab dituliskan:

1. Ratu Wasti kehilangan apa yang baik, kedudukan dan kemuliaannya karena dia mengabaikan undangan raja, sementara Ester melewati seleksi ketat, akhirnya menggantikannya menjadi ratu.

2. Yusuf memandang perbuatan saudara-saudaranya sebagai cara Tuhan untuk mengirimnya sampai ke Mesir, sebagai persiapan untuk suatu masa yang sudah ditetapkan waktu-Nya, supaya Yusuf bisa menjadi berkat.

3. 4 Orang kusta memiliki beberapa pilihan (2 Raja-Raja 4).

– Jika mereka masuk ke dalam kota (Yerusalem), selain di sana sedang terjadi kelaparan hebat sampai saling memakan di antara penduduknya, merekapun bisa dibunuh karena kustanya, mereka dianggap nazis menurut hukum Taurat.

– Jika mereka diam saja di depan pintu gerbang Yerusalem, mereka akan mati kelaparan juga.

– Jika mereka masuk ke perkemahan tentara musuh, di mana mereka bisa mati terbunuh, tetapi mereka masih melihat kemungkinan ada banyak persediaan makanan.
 Dan mereka membuat keputusan yang tepat, karena saat mereka berjalan perlahan-lahan sambil mengendap-endap, Tuhan membuat langkah mereka seperti langkah ratusan kereta kuda besi yang banyak. Mereka memilih melihat kepada kemungkinan dari pada ketidak-mungkinan
. Mereka memeiliki penglihatan yang baik dari hal-hal buruk yang tampak di depan mata;

 

Mari kita tinggalkan cara pandang yang negatif, yang sangat dipengaruhi oleh ketakutan, kekuatiran, iri hati, ketidakpuasan, kebencian dan lain-lain.

Hal-hal negatif seperti itu akan sangat merugikan kita, kita akan kehilangan banyak berkat karena sikap negatif kita.
 Kekuatiran dan keinginan untuk menjadi kaya (hidup mewah) membuat seseorang tidak bisa berbuah. Seperti benih yang tumbuh, tapi terhimpit batu, sebentar mati. 
Orang seperti itu tidak sempat berbuah dalam hidupnya.

Rasa cukup dalam diri seseorang akan membuat dia bisa mengucap syukur karena puas dan bahagia dan bisa berbuah bagi orang lain.

 

– Thanksgiving preceeds a miracle > Pengucapan syukur mendahului mujizat.
- Gratitude determines our altitude. 
If we live in gratitude, we will have the right attitude.
 And our attitude determines our altitude.

Jangan tunggu menerima mujizat, tapi jadikan diri kita mujizat bagi orang lainnya.
 Mujizat adalah sesuatu yang di luar jangkauan pengharapan (expectation) seseorang.

Saat kita melakukan lebih dari yang diharapkan, maka kita sudah menjadi mujizat bagi sesama. Jadikan diri kita alasan untuk orang lain mengucap syukur dan memuliakan Allah. Dan Tuhan akan membalasnya lebih dari pada yang dapat kita doakan atau pikirkan.

THE MOST OF ALL: HEAR THE VOICES, NOT NOISES

There are many voices we hear everyday.

Voices of truth and untruth.

Voices of optimism and pesimism.

Voices of healing and harm.

Voices of kindness and crime.

We can’t ignore all of them, but we’ve chosen to listen His will in all situation.

Yesus katakan: “Domba-domba-Ku mengenal suara-Ku.”

Jadi jika kita mengaku sebagai salah satu domba-Nya, sudah seharusnya kita “mengenali” suara-Nya. Jadi yang sepatutnya kita dengar adalah voices, bukan noises.

 

Orang yang memiliki gambar diri dan nilai diri yang baik akan memiliki cara pandang dan mendengar yang baik,

dan hal tersebut sangat menentukan bagaimana janji-janji Tuhan tergenapi dalam hidupnya. (RH)

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

19 + 3 =