Jurang Pemisah Antar Generasi

Share This Article

Jurang pemisah selalu ada dari satu generasi ke generasi yang lain. Ini adalah sesuatu yang tidak bisa dielakkan. Tidak peduli betapa besar usaha kita untuk mencegahnya, atau betapa rohaninya kita sebagai orang Kristen, rasanya sangat sukar buat kita terbebas darinya. Friksi senantiasa terjadi antara anak dan orang tua.

Mengapa harus terjadi seperti ini? Kita harus mengerti bahwa setiap generasi mempunyai pengalaman yang berbeda dari generasi lainnya. Contohnya, ada orang tua yang mengalami masa perang, tetapi anak-anak mereka tidak mengerti apa-apa mengenai peperangan; orang tua yang hidup dalam zaman dimana perbedaan suku masih terasa sangat kental, sedangkan anak-anak mereka berteman tanpa melihat perbedaan ras tersebut; orang tua yang mendapatkan pendidikan yang minim, namun anak-anak mereka mengejar pendidikan setinggi bintang di langit, dan sebagainya.

Semua yang di atas menghasilkan perbedaan cara berpikir (cara pandang). Orang tua yang seperti ini biasanya akan berpaut pada masa lalu mereka. Mereka akan meneruskan cara berpikir mereka, tidak bersedia untuk berubah, meskipun sudah tidak cocok lagi di zaman modern globalisasi ini. Sementara itu, anak-anak tidak setuju dengan cara berpikir orang tua mereka. Mereka bahkan memberikan sebutan “dinosaurus” buat orang tua mereka, untuk menunjukan bahwa orang tua mereka perlu merubah cara berpikir mereka atau mereka akan menjadi punah. Ini menyebabkan lebih banyak masalah dan konflik.

Salah satu contoh dimana jurang pemisah antar generasi ini bisa begitu jelas dilihat adalah pada saat ada orang tua yang masih membeda-bedakan suku dalam hati mereka (berpikir bahwa suku mereka lebih baik dari yang lain), tetapi anak-anak mereka jatuh cinta bahkan menikah dengan orang-orang dari suku yang berbeda. Bayangkan dramanya… rasa tertolaknya… rasa sakitnya…, dan tahun-tahun yang harus terbuang mengusahakan pemulihan dalam hubungan orang tua dan anak yang retak.

Satu contoh yang lainnya adalah orang tua yang tidak bisa membiarkan anak mereka tumbuh dewasa. Mereka masih memperlakukan anak-anak mereka seperti bayi dan anak kecil, meskipun sudah tumbuh dewasa and menikah. Anak-anak yang sudah tumbuh dewasa, apalagi yang sudah menikah, mempunyai kebudayaan mereka sendiri, kebiasaan hidup, makanan kesukaan (yang mungkin bukan masakan mama lagi). Meskipun demikian, selama bertahun-tahun orang tua mereka masih menganggap mereka seperti bayi yang digendong dalam pelukan.

Sekarang, pada saat kita tahu kerusakan macam apa yang dapat disebabkan oleh jurang pemisah antar generasi ini dalam keluarga kita, kita harus bertanya kepada diri kita sendiri, “Bagaimana caranya aku mencegah hal ini terjadi dalam keluargaku.” Tulisan ini adalah satu pesan bagi semua orang tua dan anak-anak di dunia. Kembalilah kepada apa yang dikatakan Alkitab. Kita bisa saja mencoba 1001 cara kita sendiri, pada akhirnya kita akan menemukan bahwa cara Tuhanlah yang terbaik. Efesus 6:1-4, “Hai anak-anak, taatilah orang tuamu di dalam Tuhan, karena haruslah demikian. Hormatilah ayah dan ibumu – ini adalah suatu perintah yang penting, seperti yang nyata dari janji ini: supaya kamu berbahagia dan panjang umurmu di bumi. Dan kamu, bapa-bapa, janganlah bangkitkan amarah di dalam hati anak-anakmu, tetapi didiklah mereka di dalam ajaran dan nasihat Tuhan.”

Berdoalah seperti ini, “Tuhan, berikan kepadaku keberanian untuk mengubah apa yang bisa aku ubah, untuk menerima apa yang tidak bisa aku ubah.” Bertahun-tahun yang lalu, mama saya mengatakan kepada saya bahwa kita tidak bisa hanya merasa tidak puas dengan apa yang sudah dilakukan oleh orang tua kita bagi kita, malah kita seharusnya belajar dari kesalahan mereka dan memastikan bahwa kita akan menjadi lebih baik dari mereka. Dengan cara seperti ini, kita dapat menyakini bahwa generasi yang berikutnya akan senantiasa lebih baik dari generasi sebelumnya.

Saudara dan saudari, doa saya menyertai Anda, agar Anda diberikan keberanian untuk menjadi pelaku firman Tuhan. Hidup saling menghormati dan menghargai, mengasihi tanpa syarat, mengampuni, dan berbaikan pada saat masih ada waktu untuk melakukannya. Jangan menunggu sampai terlambat. Ketika seseorang sudah dikuburkan di bawah tanah, tidak peduli betapa kerasnya Anda menangis, airmatamu tidak dapat membawa kembali waktu yang terhilang. Saya sering berjumpa dengan orang-orang yang berharap mereka sudah berbaikan dengan orang tua mereka sebelum kematian tiba. Saya dapat melihat penyesalan dan rasa bersalah yang dalam, karena mereka belum pernah melakukannya. Ambil kesempatan ini agar Anda sembuh dari luka-luka batin Anda, dan berbaikanlah… Tuhan memberkati!

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

14 − twelve =