Keefektifan Vs Ketidak-Efektifan

Share This Article

Setiap Senin pagi, kami rapat bersama dengan semua direktur dan staff (penuh waktu dan paroh waktu) di kantor sekretariat kami. Kami  akan memulainya dengan pujian dan penyembahan, membaca firman Tuhan, lalu dilanjutkan dengan rapat mingguan. Salah satu topik yang paling menarik yang ingin saya bagikan adalah mengenai keefektifan. Setiap perusahaan, organisasi, bahkan pelayanan harus bisa bekerja secara efektif. Namun demikian, ada alasan-alasan tertentu di balik setiap keefektifan dan ketidak-efektifan. Kami mengadakan survei kecil di antara kami sendiri, dan inilah hasil yang kami kumpulkan.

Kebanyakan orang menjadi tidak efektif karena:

  1. Mereka suka menunda-nunda. Kata “menunda-nunda” artinya menangguhkan sesuatu yang seharusnya kita kerjakan, biasanya karena kita tidak ingin mengerjakannya. Orang yang suka menunda-nunda akan menderita pada akhirnya karena mereka harus mengejar ketinggalan mereka yang seharusnya tidak terjadi bila mereka mengerjakannya lebih awal. Cara efektif untuk melawan sikap yang menunda-nunda ini adalah dengan membuat sebuah rencana atau jadwal, dan mengikutinya.
  2. Mereka tidak mempunyai pandangan yang sama. Contohnya, sebuah perusahaan menuntut semua karyawannya untuk hemat energi, seperti mematikan lampu atau AC yang tidak dipakai. Beberapa karyawan tidak paham mengapa mereka harus dipusingkan dengan urusan-urusan sepele seperti itu, khususnya bila perusahaan itu menghasilkan banyak keuntungan. Komunikasi yang baik diperlukan di sini, untuk memastikan setiap orang mengerti mengapa suatu kebijaksanaan harus dilaksanakan.
  3. Mereka mempunyai terlalu banyak entertainment. Kita hidup dalam suatu zaman dimana kita perlu mengikuti perkembangan informasi dari segala penjuru dunia. Kita punya fasilitas seperti TV kabel, internet, email, Facebook, Yahoo messenger, Blackberry messenger, Live messenger, Friendster, Tweeter, dll. Semua ini sarana yang baik agar kita mendapatkan berita terkini. Tetapi jangan sampai kita kecanduan akan hal-hal tersebut. Kita harus memastikan bahwa kita tidak membuang-buang jam kerja kita karena chatting dengan teman lama yang baru kita temukan lagi di internet. Kita perlu hikmat dari Tuhan untuk menjadi disiplin dalam hal ini, dan untuk menjadi produktif dalam jam kerja kita.
  4. Mereka tidak memiliki gairah atau semangat. Mereka merasa bosan dengan apapun yang mereka kerjakan. Meskipun mereka tetap mengerjakannya, itu bukan yang terbaik yang bisa mereka berikan. Orang-orang seperti ini perlu menangkap suatu visi yang jelas. Mereka harus tahu tujuannya, mengapa mereka mengerjakan pekerjaan mereka. Dengan demikian, mereka akan bisa mencintai pekerjaan mereka. Yakub bekerja selama bertahun-tahun untuk mendapatkan Rahel sebagai istrinya. Namun tahun-tahun yang dilewatinya itu hanya terasa seperti beberapa hari saja, karena ia tahu tujuan dari pekerjaannya (Kejadian 29). 
  5. Mereka tidak enak badan. Apabila kita jatuh sakit, kita merasa malas untuk melakukan pekerjaan apapun juga. Kalaupun datang ke kantor, kita akan kelihatan sangat lelah dan lambat. Yang perlu kita lakukan adalah menjadi sehat terlebih dahulu. Menjaga kesehatan dapat dilakukan dengan mempraktekkan gaya hidup yang sehat. Pastikan kita cukup istirahat, makan makanan yang berkualitas, minum banyak air, dan berolah-raga secara teratur. Penting juga bagi kita untuk menjaga hati kita tetap ceria. “Hati yang gembira adalah obat yang manjur, tetapi semangat yang patah mengeringkan tulang.” (Amsal 17:22) 
  6. Mereka tidak punya komitmen. Orang-orang yang tidak berkomitmen terhadap pekerjaan mereka, akan mudah menyerah ketika menghadapi berbagai tantangan. Sukar bagi mereka untuk berfokus dan setia pada pekerjaan mereka. Orang-orang seperti ini perlu menyadari bahwa Tuhan melihat pekerjaan yang kita lakukan di bumi. Alkitab mengatakan bahwa ketika kita melakukan pekerjaan kita, seharusnya kita melakukannya bagi Tuhan dan bukan bagi manusia (Efesus 6:7). 
  7. Mereka suka mengomel. Mereka ngomel tentang segala sesuatu. Mereka ngomel tentang cuaca, kemacetan, pemerintahan, krisis, suami/istri mereka, anak-anak mereka, dll. Mereka ngomel ketika pekerjaan mereka terlalu banyak (merasa dimanipulasi, tidak dibayar cukup untuk mengerjakan semua proyek yang ditugaskan kepada mereka). Mereka juga ngomel ketika pekerjaan mereka terlalu sedikit (merasa tersinggung karena pekerjaannya terlalu mudah dibandingkan kepandaian mereka). Mestinya daripada mengomel terus menerus dan melihat hari-hari lewat begitu saja, mereka seharusnya benar-benar melakukan pekerjaan mereka. Andai saja mereka dapat menyalurkan energi yang mereka pakai untuk ngomel kepada pekerjaan mereka, hasilnya pasti luar biasa.

Mari kita belajar dari poin-poin di atas dan bercita-cita menjadi pribadi yang terbaik. Hilangkan semua hal yang tidak penting; ubah ketidak-efektifan kita menjadi efektif. “Waspadalah, supaya kamu jangan kehilangan apa yang telah kami kerjakan itu, tetapi supaya kamu mendapat upahmu sepenuhnya.” (2 Yohanes 1:8).

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

one × 4 =