Inisiatif

Share This Article

“Kita harus mengerjakan pekerjaan Dia yang mengutus Aku, selama masih siang; akan datang malam,

di mana tidak ada seorangpun yang dapat bekerja.” Yoh 9:4

 

Definisi Inisiatif adalah: 1. Kemampuan untuk mengevaluasi dan menginisiasi secara mandiri. 2. Kemampuan untuk mengambil kendali dalam suatu situasi sebelum orang lain bertindak. 3. Kemampuan untuk menerapkan suatu strategy dalam memecahkan masalah yang sedang dihadapi.

3.5 tahun merupakan waktu yang tidak terlalu lama. Namun demikian, pelayanan Yesus meninggalkan warisan yang begitu berharga dan berdampak bagi manusia. 2013 tahun sudah berlalu dan kita masih membicarakannya hari ini dan diberkati oleh apa yang telah dilakukanNya. Salah satu karakter yang harus kita teladani dari Yesus adalah inisiatif. Sangat jelas terlihat dari responNya menghadapi situasi seperti yang diterangkan oleh ayat di atas. Kata “mengerjakan” dalam bahasa aslinya “ergazomai” yang berarti: mengambil komitmen, bekerja demi, melakukan pelayanan terhadap, dan berdagang dengan. Maknanya, selama ada kesempatan untuk melakukan kebaikan, seseorang harus mempunyai karakter inisiatif untuk mengambil komitmen demi melayani, bekerja atau bahkan menjalankan bisnis.

Lalu bagaimana caranya kita menumbuhkan  karakter yang sangat penting ini?

  1. Menentukan prioritas dengan benar. Yesus memahami bahwa waktuNya hanya 3.5 tahun dalam pelayanan. Dia tidak bisa menyia-nyiakan waktuNya. Dia mempunyai prioritas yang benar.
  2. Menggunakan dan menciptakan KESEMPATAN: orang bodoh – menyia-nyiakan kesempatan; orang rajin – menggunakan kesempatan; orang pandai – menciptakan kesempatan. 2 Tim 4:2, “Beritakanlah firman, siap sedialah baik atau tidak baik waktunya, nyatakanlah apa yang salah, tegorlah dan nasihatilah dengan segala kesabaran dan pengajaran.”
  3. Punyai MOTIF yang benar. Orang Farisi ingin menyalibkan Yesus. Hal itu terjadi kebanyakan karena permasalahan hati. Orang Farisi tidak senang waktu Yesus menyembuhkan orang buta, hanya karena hari itu hari Sabath. Apakah benar karena hari Sabath? Atau karena benci dan iri?
  4. Mengatasi KETAKUTAN. Ketakutan adalah emosi tidak menyenangkan yang terjadi karena kita mempercayai bahwa seseorang atau sesuatu itu berbahaya, dapat menimbulkan luka atau ancaman. Normal sekali untuk merasa takut, karena pada saat kita menghadapi situasi yang tidak menyenangkan, seluruh sistem tubuh kita akan menjadi waspada. Namun, tidak seharusnya kita entertain perasaan takut tersebut. Khususnya karena kita mengetahui sebagai anak dari Tuhan yang Maha Tinggi, Bapa selalu berada di sisi kita. Maz 55:23, “Serahkanlah kuatirmu kepada TUHAN, maka Ia akan memelihara engkau! Tidak untuk selama-lamanya dibiarkan-Nya orang benar itu goyah.”
Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

4 + 7 =