From the Chairman: Realigned To God’s Purpose

Share This Article
“Mari, ikutlah Aku, dan kamu akan Kujadikan penjala manusia.” Matius 4:19
Banyak orang sudah mengerti bahwa Tuhan punya tujuan hidup bagi setiap orang. Kita ini digambarkan seperti gabungan berbagai batu bata yang tersusun rapi, dengan Kristus sebagai batu penjuru. Menjadi anak-anak Tuhan adalah suatu panggilan tertinggi yang dapat kita miliki. Akan tetapi, berada di dalam dunia ini berarti kita harus berurusan dengan berbagai macam problema dan masalah. Pikiran dan jiwa kita akan terus mendapatkan hantaman yang bertubi-tubi. Belum lagi gemerlap dunia yang terus menyihir kita, membuat semakin sulit bagi kita untuk menyebarkan pengaruh dan mewarnai dunia, meskipun kita terpanggil untuk melakukan hal itu. Bahkan banyak yang masuk begitu dalam ke dunia lalu terjebak dan tersesat. Lebih parah lagi, beberapa malah menyangkal Kristus sebagai satu-satunya Jalan, Kebenaran dan Hidup. Inilah gambaran dari masyarakat zaman ini.
Krisis adalah titik balik dari sebuah situasi untuk menjadi lebih baik atau lebih buruk. Barang siapa dapat memanfaatkan situasi ini akan menikmati keuntungannya. Selama hampir satu tahun ini, banyak orang mengalami masalah yang begitu menekan, baik dalam bisnis ataupun pelayanan. Hal ini sama seperti pada zaman Yesus, di mana Simon dan teman-temannya menghadapi masalah. Bisnis sedang lambat bagi mereka. Menjadi nelayan dan tidak menangkap apa-apa, pasti membuat mereka menjadi begitu stress. Mungkin juga saat itu mereka harus berurusan dengan inflasi dan bunga bank yang meroket, atau upah minimum yang terus meningkat yang harus mereka berikan kepada orang upahan mereka, ditambah lagi dengan jumlah tangkapan yang tidak memenuhi kebutuhan hidup mereka. Mereka bingung, marah dan tersesat. Semua keahlian mereka sebagai nelayan professional dari generasi ke generasi dan semua asam garam yang sudah mereka telan, serta segudang pengalaman mereka tidak dapat menolong mereka.
Sampai suatu hari, ada suatu kegaduhan yang terjadi di desa nelayan tersebut. Ada seseorang yang penuh dengan persona yang lewat
desa mereka: Yesus yang memikat hati banyak orang, sehingga kemanapun Dia pergi, Dia dikelilingi kerumunan orang. Banyak yang berteriak memanggil namaNya untuk mendapatkan perhatianNya, bila diterjemahkan ke zaman sekarang mungkin adabanyak yang minta foto selfie bersama Dia. Di antara kerumuman itu, juga ada orang-orang yang mengalami keputusasaan, yang sedang mencari jawaban.
Kepopuleran Yesus membuat mereka kagum, ditambah dengan mujizat-mujizat yang terjadi, yang di luar akal sehat mereka. Banyak orang menyaksikan bagaimana Dia membangkitkan seorang muda yang mati di suatu upacara penguburan di kota Nain, mengubah air menjadi anggur tua yang terbaik, mencelikkan mata orang yang buta, bahkan memulihkan orang bisu dan tuli sehingga mereka bisa berbicara dan mendengar.
Yesus sedang berjalan, lalu berhenti di dekat Simon dan teman-temannya yang sedang membersihkan jala. Dia berkata ingin meminjam perahu Simon. Karena karisma yang membuat terkesima, Simon pun setuju meminjamkan perahunya dan membawa Yesus agak sedikit jauh dari pantai. Kemudian, Yesus mulai berkotbah dan mengajarkan bahwa Kerajaan Allah sudah dekat, dan kemungkinan Yesus juga mengajarkan tentang tujuan hidup, iman dan destinasi. Ucapan Yesus tidak hanya mempenetrasi hati mereka, tapi juga menembus sampai ke tulang dan sumsum, bahkan hati nurani yang terdalam. Sederhana namun membawa damai sejahtera yang tidak sama dengan yang selama ini dimengerti orang.

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

5 × 1 =