Brief Update Palu Relief #Solider4Palu – Hari ke 02, 09 Oktober 2018

Selasa pagi, tgl 9 Okt 2018. Tadi pagi sekitar pk. 04:30 WITA, ketika masih pulas tidur, tiba-tiba saya dikejutkan dengan gemuruh keras dan teman-teman pada gedor pintu. Saya sadar bahwa gempa cukup besar terjadi! Ada yang beda dengan selama ini pernah kita alami di Jakarta: ada gemuruhnya keras sekali. Hal ini terjadi karena kira ada di dekat episenter (pusat gempa). Tanpa sadar waktu kondisi sudah pulih, adrenaline saya masih mengalir, kaki saya masih sedikit gemetar. Padahal sebelum tidur saya sudah siap-siap dengan HP dan senter di samping saya. Saya kira saya siap, ternyata tidak!!

Pada hari ke-2 operasional kami, team kami menuju ke pusat kota di pantai Talise. Saya bisa katakan bahwa tempat ini adalah benar-benar ground zero, tempat terjadinya gempa dan tsunami. Aura kematian masih terasa dan kengerian yang tidak sebanding dengan sewaktu yang kita lihat di TV. Tampak beberapa blok kota tersapu rata. Oh Tuhan!! Begitu parah, dan sekali lagi kita hanya bisa melihat kehancuran demi kehancuran yang ada. Jembatan kuning yang dulunya demikian gagah, sekarang tersungkur di dasar sungai, seakan menunggu nasib untuk menjadi besi tua. Mobil2 yang gepeng menunjukkan betapa keras hempasan dari ombak.

 

 

“Palu Ngataku”
Sebuah lagu dalam bahasa lokal yang menceritakan tentang keindahan dan kebanggaan orang Palu akan kotanya. But it is no more..

Di tengah puing-puing kehancura ini masih begitu banyak orang yang sangat optimis bahwa Tuhan baik. Suatu pengalaman pribadi yang begitu mahal. Sewaktu saya livestreaming di IG saya di @danielhendrata, saya katakan saat ini adalah saat yang tepat untuk melakukan refleksi diri terhadap hubungan kita dengan Tuhan. Tapi saya mau tambahkan bahwa bukan saja hubungan pribadi dengan Tuhan yang harus dibangun dengan baik, tetapi juga hubungan dengan keluarga kita: istri, suami, anak-anak dan orang tua kita. Life is fragile, sebaik apapun kita bisa jaga, tetapi ada faktor-faktor di luar kontrol kita yang selalu bisa terjadi. Beberapa korban di Palu adalah pemilik hotel dan orang-orang yang terpandang di kota ini.

Selepas dari pusat kota, kami masuk ke daerah Simoro di Kabupaten Sigi. Kami melakukan baksos medis kepada sekitar 70 KK (sekitar 200 pasien). Ada kasus seorang bapak yang kepalanya bocor karena terjatuh sewaktu gempa dan hanya mendapatkan perawatan ala kadarnya. Pas perban dibuka, terlihat luka menganga sebesar telunjuk orang dewasa.

Juga kasus luka dalam, memar, terkilir, gatal-gatal, diare, dsb.

Puji Tuhan, team dokter yang kami bawa adalah certified medical relief workers yang memang ikut menangani relief di beberapa bencana besar sebelumnya, seperti Aceh dan Padang.

Lalu di titik ke dua, kami melakukan baksos medis dan melayani sekitar 86 KK (lebih dari 250 pasien), sekaligus kami membagikan susu dan bubur bayi, susu formula bagi anak-anak, pembalut, diaper, dan lain sebagainya. Di tempat ini sebuah Gereja bernama GPID Patmos di Pakuli, Kabupaten Sigi, tembok luar roboh dan tidak akan bisa dipakai lagi selain dihancurkan dulu lalu dibangun ulang.

Untuk merekalah, Tuhan kirim kita semua untuk membawa secercah harapan. Kata reporter kami, @TezarKodongan, melihat ada orang2 yang datang itu membuat mereka merasa sangat diperhatikan. Bahwa meraka adalah orang2 yang berharga dan layak mendapatkan perhatian terbaik. “Tuhan masih memperhatikan kami dan kami tidak ditinggalkan sendirian,” demikian katanya.

Ada satu sisi dari operational selama di Palu ini yang tidak nampak, yaitu team logistik. Di sinilah diperlukan peran sebuah gereja lokal yaitu melatih dan mempersiapkan generasi muda untuk melakukan rencana Tuhan. Saya sangat salut dengan team logistik ini yang dengan penuh sukacita dan dedikasi tinggi mereka menjadi the Unsung Heros, yaitu sekelompok anak-anak muda yang tak mengenal lelah membantu untuk mengambil dan mempersiapkan barang-barang bantuan logistic. Bukan hanya barang-barang yang datang dari Yayasan Anugrah, tetapi juga dari gereja-gereja lainnya. Dengan canda tawa dan keceriaan, mereka begitu kompak dan tidak mengenal lelah. Saya melihat dalam setiap bencana yang pernah saya masuki sebelumnya, selalu ada peran orang-orang muda lainnya seperti ini. Padahal rumah mereka juga banyak yang hancur, kehilangan pekerjaan, kehilangan income. Walaupun ada pilihan untuk lari meninggalkan Palu, mereka memilih untuk stay. Hal ini karena teman saya, gembala mereka, Pdt Chris Apitula juga memilih untuk tidak meninggalkan jemaatnya dan kota di mana Tuhan sudah tempatkan mereka. Bahkan bersama istri dan ke-2 putri mereka yang masih berusia sekitar 10 dan 6 tahun. Mereka katakan kami siap mati di tanah Palu ini.

Sewaktu Tsunami, mereka ada di sebuah pantai dan sudah seharusnya mati, tetapi Tuhan luputkan, sehingga mereka sadar bahwa tidak ada tempat yang aman selain dalam perlindungan tangan Tuhan. (Saya menangis sambil menulis laporan ini)

“Maz 37:3, Percayalah kepada TUHAN dan lakukanlah yang baik, diamlah di negeri dan berlakulah setia.”

Keluarga ini adalah salah satu contoh dari gembala-gembala lain yang juga masih bertahan, merekalah yang menjadi komandan lapangan bagi kota ini dan Tubuh Kristus menjadi terang dan berkat bagi semua orang.

Suatu refleksi penutup. Bagaimana dengan Anda? Mari kita hidup sepenuhnya belajar untuk setia dan masuk dalam keserupaan akan Kristus.

Oh ya, pengiriman Hercules kloter ke 2 sudah masuk. 1,5 ton lagi sudah masuk, jadi sampai saat ini sudah terkirim 3,5 ton dari total 5 ton logistik yang kami bawa.

Benar ada banyak sekali orang yang menjadi the Unsung Heros: Anda yang mendonasikan dana, yang berdoa, yang mempersiapkan logistik, yang membuka akses ke Hercules, yang mendistribusikan di lapangan.

Tuhan baik, kasih setiaNya untuk selama-lamanya.

Doakan kami.

In HIS Service,
Ps. Daniel Hendrata dan semua Tim Anugrah Ministries yang bertugas.
#Solider4Palu

This post is also available in: English