Gelombang ke 2 – Laporan ke-2 Palu Anugrah Medical Team

Donggala
Selagi Team Medis mempersiapkan obat-obatan yang akan digunakan di sore hari, maka saya mengambil inisiatif untuk survey beberapa hal di Donggala. Bila sewaktu Anda kecil sering bermain Monopoli versi Indonesia, maka nama kota ini tidak terlalu asing bagi Anda, bukan?

Sebuah kota penunjang yang berjarak tempuh sekitar 40 km dari Palu. Kami melakukan survey ke beberapa titik untuk melihat gedung-gedung gereja dan sekolah, untuk melihat kemungkinan masuk tahap rebuilding.

Melihat sebuah SMAN 1. Kehancuran yang sangat parah, dari 24 ruangan kelas dan lab pada sekolah ini, hanya 8 ruangan yang dinyatakan “kemungkinan” bisa dipakai ulang. Kerusakan sangat parah dan memilukan hati.

Saat ini para siswa dipindahkan untuk bisa belajar di sekolah sementara (menggunakan tenda, di lapangan depan sekolah mereka). Tentunya kita tahu bahwa pendidikan memainkan peran yang sangat penting dalam membangun generasi penerus. Apalagi sekolah ini, salah satu SMAN tertua di kota ini, bisa dibayangkan peran sertanya dalam membangun orang-orang yang pernah mengenyam pendidikan melalui bangku-bangku dan ruang kelas yang sekarang sudah pada hancur. Bila sekolah ini mengalami pemulihan, maka kita percaya bahwa hal ini akan menunjang kembali pembangunan generasi muda kita.

Petobo Refugees Center
Pada hari kedua operasional kami, kami menjangkau kepada para pengungsi di pusat pengungsian Petobo. Seperti yang kita tahu bahwa perumahan Petobo adalah salah satu daerah paling parah karena gempa dan likufaksi. Bagi pengungsi yang survive, semuanya kehilangan rumah secara permanen, tidak sedikit yang kehilangan anggota keluarganya.

Sebelum Baksos dimulai, saya mengambil kesempatan yang baik untuk mengatakan kepada mereka tentang simpati kita yang terdalam. Saya katakan bahwa masyarakat Palu tidak dilupakan, ada begitu banyak kepedulian dari teman-teman yang tidak bisa langsung hadir. Kami berharap bahwa apa yang kami berikan ini akan membawa secercah harapan agar masyarakat Palu punya keberanian untuk bangkit kembali. Tuhan menyayangi kalian, dan mengirim kami ke sini untuk menyampaikan kepedulian bagi orang-orang di Palu. Terima Kasih karena kami diterima dengan baik. Hari ini kami bawa Team dokter dan obat-obatan serta bantuan sembako. Jadi gunakan kesempatan baik ini untuk bisa kesehatan bapak dan ibu diperiksa, dan kita bisa saling mengenal.

Pada gelombang ke-2 ini, kami berjumpa dengan seorang kakek yang hampir tenggelam oleh liquifaksi. Puji Tuhan, ada sebalok kayu yang lewat di tengah-tengah lumpur tersebut, seakan-akan Tuhan sendiri mengulurkan tanganNya untuk menolong kakek tersebut; maka dengan cepat dia memeluk balok kayu itu dan terselamatkan. Rupanya di tengah-tengah bencana yang seperti ini, kita tetap bisa melihat jejak kebaikan Tuhan.

Kepada teman-teman dan Sahabat Anugrah, Terima Kasih karena Anda sudah menjadi alat Tuhan sehingga dalam synergy ini masyarakat Palu dapat dijangkau dengan baik.

Tuhan memberkati!!

In His Service,

Ps. Daniel Hendrata & seluruh team Anugrah yang bertugas.

This post is also available in: English