Persahabatan

Share This Article

Sangat sulit menemukan persahabatan di dunia ini. Kebanyakan orang ingin berteman dengan orang-orang yang kaya, terkenal, berkuasa, atau berpengaruh. Kebanyakan persahabatan didasari oleh kebutuhan: Aku berteman denganmu karena aku membutuhkan sesuatu darimu. Tidak begini seharusnya. Kita semua perlu belajar and diingatkan kembali tentang arti persahabatan yang sejati.

Pernahkah anda berpikir mengapa sangat mudah menemukan teman baik, bahkan sahabat ketika anda masih jauh lebih muda (di SD atau SMP)? Tetapi mengapa sangat sulit mendapatkan teman pada saat anda sudah bertumbuh dewasa? Maksud saya, teman yang selalu ada di sana untukmu, melalui masa-masa senang dan sulit bersama-sama, bukan mereka yang hanya basa-basi, dan pastinya bukan mereka yang setia hanya pada saat keadaanmu baik tetapi meninggalkanmu begitu keadaanmu tidak baik.

Umumnya anak-anak tidak punya masalah dalam menemukan teman. Sangat mudah bagi mereka untuk mendapatkan BFF (Best Friend Forever). Hal itu dikarenakan hati mereka masih murni, dan mereka masih polos. Persahabatan mereka tidak berdasarkan kebutuhan. Kemudian orang tua merekalah yang mempengaruhi pikiran mereka: Bertemanlah dengan yang kaya, kamu akan mendapat koneksi yang baik, atau dengan yang pandai, kamu bisa belajar darinya. Inilah awal dari sebuah persahabatan yang tidak murni lagi.

Alkitab mengajarkan kepada kita untuk menjadi seperti anak kecil jika kita mau menjadi yang terbesar dalam kerajaan Sorga. Kita perlu belajar dari anak-anak tentang persahabatan. Kita harus mempunyai sikap seperti ini: Aku bersahabat denganmu karena aku sungguh peduli akan dirimu, bukan karena aku membutuhkan sesuatu darimu. Yesus adalah seorang sahabat bagi semua orang, bahkan bagi orang-orang yang berdosa dan miskin. Bukan karena Dia membutuhkan sesuatu dari mereka, tetapi karena Dia peduli dan mengasihi mereka.

Kita boleh punya ribuan teman di Facebook, ribuan daftar contact di Blackberry Messenger, tetapi jika kita tidak pernah menyapa mereka dalam kurun waktu yang sangat panjang, apa gunanya? Apakah kita sungguh adalah teman mereka? Beberapa dari kita bahkan tidak mau menelpon balik, tidak peduli untuk bertanya ‘Apa kabar.’ Di hari ulang tahun dan hari jadi pun, kita tidak menyalami mereka. Ketika mereka kehilangan orang yang mereka cintai, kita tidak menyampaikan simpati kita. Kita telah menjadi orang yang super cuek, karena kita pikir kita tidak membutuhkan apa-apa dari mereka. Kita baru akan mencari mereka bila kita membutuhkan.

Kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk memberikan persahabatan sejati mereka jika kita sendiri tidak bisa menjadi seorang sahabat yang sejati. Kita harus memperlakukan orang lain sebagaimana kita mau diperlakukan. Mari berubah. Mari lebih lagi menjadi seperti Yesus. Hari ini dan setiap hari sepanjang hidup kita, maukah kita menjadi orang yang peduli dan mengasihi?

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

fifteen + 9 =