Pejuang Kehidupan

Share This Article

Bola mata kirinya diangkat karena kanker menyerang di usianya yang pertama. Saat duduk di sekolah dasar, Ia sering diejek oleh teman-temannya, hal itu tentu saja membuatnya menangis. Pulang dari sekolah, ia bertanya pada ibunya, apakah benar ia cacat. Ibunya bercerita padanya, tentang apa yang ia alami saat berusia satu tahun, dan berkata padanya, meski memilki kekurangan, namun banyak sekali kelebihan yang ia miliki. Ibunya, tak pernah membedakan dirinya dengan kebanyakan orang normal, ia tetap mendapatkan porsi perhatian yang sama. Melihat kondisi kesehatan, dan beberapa faktor lainnya, pihak sekolahnya mempertimbangkan jika ia sebaiknya tinggal kelas. Tetapi, Alvita Dewi Siswoyo bersikeras bersekolah melanjutkan pendidikannya, guna dapat meraih impiannya.

Umur 16 tahun, ia harus kembali menelan pil pahit, karena kembali divonis menderita kanker. Kali ini adalah kanker  getah bening di kakinya. Ia  sering menangis karena sakit yang dirasakan tubuhnya, tetapi yang lebih membuatnya menangis jika mengingat waktunya di dunia. Ia memiliki cita-cita yang belum tercapai, menjadi seorang dokter. Ia pun ingin tetap hidup agar kelak  dapat merawat dan menjaga kedua orang tuanya. “Tuhan, ijinkan saya hidup,”kata Alvita. Ya, kedua orang tuanya lah salah satu alasan ia untuk ingin tetap hidup.Baginya, kedua orang tuanyalah yang memberinya kekuatan, semangat juga keberanian menjalani kehidupan. Semangat hidup serta keteguhan hati yang ia punyai, mengantarkan dirinya menggapai cita-citanya menjadi seorang dokter.

Dulu karena melihat ayahnya yang juga seorang dokter, sering menolong banyak orang, Ia  pun ingin seperti ayahnya. Sejak kecil, keinginan dan juga kerinduan itu tertanam  dalam dirinya. Memang bukan jalan yang mulus dan lurus yang harus dilewati. Tak jarang kondisinyalah yang sering membuatnya berpikir apakah sanggup, karena ia mengidap kanker. Jalan Tuhan tak terselami, Dia mengasihi setiap orang yang hidup dengan berani. Alvita kini seorang dokter. Tak hanya cita-citanya yang tercapai, namun hidupnya menjadi teladan bagi banyak orang. Ia bilang,lebih suka disebut sebagai pejuang kanker, bukan korban kanker. Menurutnya, korban adalah seseorang yang berada dalam posisi yang lemah, namun berbeda dengan seorang pejuang, yang tak gampang menyerah dengan kondisi serta situasi yang ada.

Sahabat. Bagaimana dengan kita?  Apakah kita lebih sering  mengasihani diri sendiri ketika kita menghadapi masalah atau hal-hal yang membuat kita lemah dan tidak mengerti apa yang harus kitalakukan. Saya masih ingat ketika saya berniat  mengakhiri hidup saat masih duduk di bangku SMA. Ingatan saya pun masih segar, meingingat saat saya memutuskan untuk meninggalkan Tuhan di tahun 1997. Ya, saya pun masih ingat, seringkali mengeluh, meratap, menyesali bahkan mengutuki diri ketika dalam masalah. Saya juga  masih ingat ketika saya lebih mudah mengasihani diri sendiri, menanyakan keberadaaan dan keadilan Tuhan dan memilih untuk menjadi  kalah oleh hidup daripada berjuang, mensyukuri dan menjalani hidup dengan berani.

Sahabat. Berada dalam rasa mengasihani diri atas penderitaan yang kita alami, takkan membuat  kita  menjadi orang yang menang. Selalu menyalahkan kondisi bahkan Tuhan, menyesali keberadaan diri, itu semua bukanlah penyelesaian yang tepat. Karena membiarkan diri terpasung oleh kelemahan terbelenggu oleh perasaansebagai ‘korban’ tak bisa membawa kita keluar dari semua itu. Pilihan ada di tangan kita. Sahabat. Mari belajar untuk lebih lagi menghargai, mensyukuri dan menjalani hidup dengan berani. Saya percaya, hidup memang tak selalu indah juga tak mudah. Jalan yang terbentang di depan kita pun tak selalu lurus dan mulus.Tapi mari kita menjalaninya hanya oleh  anugerahNya saja, raih impian kita bersamaNya. Tempatkan diri kita sebagai Pejuang kehidupan, bukan sebagai korban kehidupan.(JL)

Share This Article

This post is also available in: English

Facebook Comments

Default Comments

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

20 − 17 =