You are here: Reading Reflection KEMULIAAN DI DALAM KACA

KEMULIAAN DI DALAM KACA

Sambil berdiri di depan kotak yang berisi pecahan kaca, mata saya yang tak terlatih ini hanya melihat pecahan keping-keping berwarna warni yang tak beraturan. Dengan perintah untuk memungut beberapa warna yang serasi, maka saya memilih nuansa yang paling saya sukai, lalu warna-warna yang berbaur atau kontras satu dengan lainnya dengan cara yang sangat menarik.

 


“Cara terbaik untuk memandangnya,” kata instrukturnya, “adalah dengan mengangkatnya ke arah terang. Dengan demikian anda dapat melihat variasi tekstur dan warnanya.”

Ketika saya mematuhinya, benar juga, keping-keping kaca pilihan itu menampakkan penampilan yang sama sekali berbeda, sehingga memudahkan saya untuk membayangkan bagaimanakah rupa hasil akhir kreasi kaca berwarna saya
nantinya.

“Jangan kuatir tentang sisi yang retak-retak, tidak rata dan ketidak sempurnaannya,” katanya. “Nanti kita akan mengerjakannya.”

Begitu pola dan kaca saya sudah terpilih, saya mengikuti bimbingan Caryl langkah demi langkah di dalam menggores dan memecahkan kaca dengan setepat mungkin, sehingga hanya menyisakan beberapa sisi kasar yang kemudian harus dipoles.

Pemolesan adalah pekerjaan yang memeras tenaga. Kami harus mengerahkan tekanan yang tepat pada alatnya, kalau tidak maka polesannya akan banyak yang terbuang. Tentu saja, lebih banyak pekerjaan yang dibutuhkan untuk menjadikan sebuah keping tertentu menjadi pas, tekanan yang diperlukan akan lebih banyak.

Apabila satu keping telah terbentuk dengan benar, maka selembar foil tembaga tipis dibungkuskan pada sisi-sisinya, polanya dipaskan satu dengan yang lain dan di solder dengan timah. Hasil akhirnya kemudian diletakkan di tempat yang mencolok, biasanya di jendela, sehingga sinar matahari dapat memantulkan keindahan sejati dari karya tersebut.

Berdiri di hadapan dunia dengan jiwa-jiwa yang terhilang, Seniman Agung itu hanya memandang mereka sebagai manusia yang jatuh dan hancur. Dengan perintah kepada PutraNya, Ia merancangkan sebuah rencana untuk membawa ciptaanNya kembali kedalam harmoni dengan diriNya sendiri.

“Cara terbaik untuk memandang mereka,” kataNya, “adalah dengan mengangkat mereka ke arah terang FirmanKu. Dengan demikian Engkau dapat melihat keunikan dan keindahan mereka masing-masing.”

Ketika Sang Putra mematuhiNya, benar juga, manusia menampakkan penampilan yang sama sekali berbeda, sehingga memudahkanNya untuk membayangkan bagaimanakah rupa ciptaan yang telah ditebusNya nanti.

“Jangan pusatkan perhatian pada sisi yang retak-retak, tidak rata dan ketidak sempurnaannya,” kata Bapa. “Nanti kita akan membereskannya.”

Begitu Sang Putra telah mengerti rencananya, Ia mengikuti bimbingan BapaNya langkah demi langkah sepanjang jalan menuju salib.

Penyaliban adalah pekerjaan yang memeras tenaga. Namun oleh karenanya, Bapa dapat mengerahkan tekanan yang tepat pada alat pemoles untuk membentuk kita menjadi karya seni yang tak bernoda. Dan Ia tak pernah akan memoles terlalu berlebihan.

Apabila sebuah kehidupan telah terbentuk dengan benar, maka ia akan dibungkus di dalam pita merah dari darah yang tercurah, kepingan-kepingannya dipersatukan kembali dan diikat dengan kasih yang tak bersyarat.

Kita, hasil akhirnya, kemudian ditinggikan untuk mengambil tempat kehormatan di dalam Sang Putra. Saat terangNya terpancar melalui kita, nuansa-nuansa lembut dari setiap kehidupan pribadi terpantul seperti prisma kepada siapapun yang berdiri di dekatnya. Mereka yang disekelilingnya kemudian akan melihat kilasan kemuliaan dan kuasa dari karya keselamatan, ketika kita dengan penuh ucapan syukur berkata, “Kitalah karyaNya, diciptakan di dalam Kristus Yesus …”


(Diambil dari majalah Adventures In Faith May-Juni 1998 oleh June George)


Anda bukanlah merupakan produk dari apa yang anda lakukan atau apa yang tidak anda lakukan. Anda merupakan produk daripada siapa diri anda itu di dalam Kristus dan karyaNya di kayu salib. Anda tidak diselamatkan oleh karena cara anda bertingkah laku melainkan oleh karena cara anda percaya. Firman Allah meyakinkan kita, “Saudara-saudaraku yang kekasih, sekarang kita adalah anak-anak Allah, … Setiap orang yang menaruh pengharapan itu kepadaNya, menyucikan diri sama seperti Dia yang adalah suci.”
(I Yohanes 3:2-3).
(Neil Anderson, Daily Devotional 6 Maret 2000)